Industri Anime Jepang Tumbuh 9,9 Persen, Kesejahteraan Animator Masih Jadi Masalah
Nusantrika.id - Industri produksi anime Jepang mencatat pertumbuhan pasar sebesar 9,9 persen sepanjang 2025. Meski nilai pasar mencapai 406,58 miliar yen, peningkatan tersebut belum sepenuhnya berdampak pada kesejahteraan pekerja kreatif, khususnya animator yang masih menghadapi persoalan upah, jam kerja, dan keterbatasan kapasitas produksi.
Berdasarkan laporan Teikoku Databank pada 19 Agustus 2026, nilai pasar perusahaan produksi anime Jepang pada 2025 mencapai 406,58 miliar yen. Angka ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.
Namun, pertumbuhan industri tersebut berlangsung di tengah persoalan kekurangan animator dan terbatasnya kapasitas produksi. Teikoku Databank juga mencatat kenaikan biaya tenaga kerja serta biaya produksi yang menekan kondisi keuangan sejumlah perusahaan.
Pendapatan Animator Mengalami Penurunan
Kondisi pekerja animasi Jepang tergambar dalam Animation Creators Survey 2026 yang disusun Japan Animation Creators Association (JAniCA). Survei terhadap 983 responden itu mencatat rata-rata pendapatan tahunan sebesar 4,446 juta yen, dengan median 4 juta yen.
Dalam survei yang sama, rata-rata waktu kerja responden mencapai 190,6 jam per bulan. Dibandingkan hasil survei 2023, rata-rata pendapatan tahunan tersebut turun dari 4,555 juta yen. Sementara itu, rata-rata waktu kerja bulanan berkurang dari 198,3 jam.
Meski memberikan gambaran mengenai kondisi pekerja industri animasi, hasil survei JAniCA perlu dibaca sesuai cakupannya. Data tersebut mencakup responden dari berbagai profesi dalam industri animasi dan tidak dapat dianggap sebagai gambaran pendapatan seluruh animator di Jepang.
Distribusi Pendapatan Menjadi Tantangan Industri
Selain persoalan upah dan jam kerja, kesejahteraan pekerja juga berkaitan dengan sistem produksi serta distribusi pendapatan anime.
Dalam kajian yang diterbitkan pada 4 Maret 2025, Japan Research Institute menjelaskan bahwa sebagian besar pendapatan dari penjualan anime ke pasar luar negeri mengalir kepada perusahaan distribusi, penerbit, dan pemegang hak lainnya.
Adapun bagian pendapatan yang diterima perusahaan produksi diperkirakan hanya sekitar 10 persen. Kondisi ini menjadi salah satu tantangan agar pertumbuhan pasar dapat memberikan manfaat lebih besar bagi pihak yang terlibat langsung dalam proses pembuatan anime.
Padahal, produksi anime melibatkan rangkaian pekerjaan kreatif yang panjang. Prosesnya dimulai dari penyusunan cerita, pembuatan papan cerita atau storyboard, desain karakter, penggambaran gerakan, hingga penyuntingan.
Animator menjadi salah satu bagian penting dalam proses tersebut. Mereka menghasilkan gambar demi gambar untuk membentuk gerakan karakter dan lingkungan cerita secara berkesinambungan.
Pertumbuhan Pasar Perlu Diikuti Perbaikan Kondisi Kerja
Meningkatnya permintaan anime dari berbagai negara turut mendorong perkembangan industri produksi di Jepang. Namun, pertumbuhan pasar perlu disertai keberlanjutan tenaga kreatif yang menjadi fondasi utama produksi.
Sejumlah aspek yang perlu mendapat perhatian antara lain perbaikan upah, pengaturan waktu kerja, pelatihan animator baru, serta pembagian pendapatan yang lebih seimbang.
Dengan perbaikan tersebut, keberhasilan industri anime Jepang tidak hanya diukur melalui peningkatan nilai pasar, tetapi juga melalui kondisi kerja dan kesejahteraan para pekerja yang berada di balik produksinya.
