Gubernur BI Perry Warjiyo Mundur, Rupiah dan IHSG Ikut Bergejolak
JAKARTA — Kabar mengejutkan datang dari dunia perbankan nasional pada awal pekan ini. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengumumkan pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo pada Senin (27/7/2026), yang disiarkan langsung di gedung Bank Indonesia, bukan di Istana Negara maupun kantor kepresidenan. Pengunduran diri ini terjadi secara tiba-tiba dan langsung mengguncang pasar keuangan domestik dalam hitungan jam. Isbcenter
Perry mengajukan surat pengunduran dirinya kepada Presiden Prabowo Subianto, di tengah tekanan berat terhadap nilai tukar rupiah akibat memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Iran. Sejumlah pengamat pasar menilai kondisi ini turut diperparah oleh pola intervensi pemerintah dan DPR yang berulang kali disorot menyinggung independensi bank sentral, sehingga muncul spekulasi bahwa langkah mundur Perry tidak lepas dari tekanan-tekanan tersebut. Inilah
Menyusul kekosongan jabatan itu, posisi Gubernur BI untuk sementara diisi oleh Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, sebagai pejabat sementara (Pjs). Destry pun langsung tampil ke publik untuk meredam kepanikan pasar. Kompas
Pasar Bereaksi Negatif
Dampaknya terasa seketika di lantai bursa. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 6.185,78, turun 10,64 poin atau 0,17 persen dibanding penutupan akhir pekan sebelumnya. Sepanjang sesi perdagangan, indeks bahkan sempat menyentuh titik terendah di 6.144,27, dengan 341 saham melemah, 307 saham menguat, dan 147 saham stagnan. Investing.com
Nilai tukar rupiah pun tak luput dari tekanan. Berdasarkan data BI JISDOR, rupiah ditutup di level Rp17.995 per dolar AS, melemah dari posisi pembukaan Rp17.973. Sementara itu, sejumlah media lain mencatat pelemahan yang lebih dalam, dengan mata uang Garuda sempat terperosok hingga menyentuh level Rp18.009 per dolar AS, merosot 46 poin dari penutupan akhir pekan sebelumnya di kisaran Rp17.963 per dolar AS. Investing.comInilah
Ekonom dan Guru Besar Universitas Airlangga, Prof. Rahma Gafmi, dalam risetnya menyebut pengunduran diri ini "berpotensi memberikan dampak psikologis dan volatilitas jangka pendek pada pasar keuangan Indonesia, rupiah, IHSG, dan pasar SBN." Ia menambahkan bahwa pergantian pimpinan bank sentral di tengah tekanan ekonomi global bisa memicu spekulasi soal keberlanjutan arah kebijakan moneter ke depan. Okezone
BI Pastikan Stabilitas Tetap Prioritas
Menanggapi gejolak tersebut, Destry Damayanti menegaskan bahwa bank sentral tak akan tinggal diam. Saat ditanya wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, ia menyampaikan, "Ya, BI tetap menjaga stabilitas keuangan, nilai tukar tetap jadi prioritas kita juga." Ketika disinggung soal kemungkinan intervensi besar-besaran, ia menambahkan bahwa pihaknya akan melanjutkan langkah-langkah yang sudah berjalan selama ini. Kompas
Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, turut menyoroti pentingnya komunikasi resmi dari otoritas terkait guna meyakinkan pelaku pasar. Menurutnya, keyakinan investor terhadap stabilitas makro dan independensi bank sentral akan sangat bergantung pada pergerakan rupiah dan IHSG dalam beberapa hari mendatang, mengingat isu ini bukan semata urusan internal BI, melainkan juga menyangkut tata kelola kebijakan pemerintah secara keseluruhan.
Latar Belakang Politik dan Ekonomi
Pengunduran diri Perry Warjiyo terjadi di tengah periode yang penuh tantangan bagi ekonomi Indonesia — mulai dari fluktuasi harga komoditas global, ketegangan geopolitik yang berdampak pada pasar energi, hingga tekanan berkelanjutan terhadap mata uang negara berkembang akibat kebijakan moneter negara-negara maju. Dalam situasi seperti ini, kepercayaan pasar terhadap independensi bank sentral menjadi krusial, karena setiap sinyal ketidakpastian kepemimpinan cenderung direspons cepat oleh investor domestik maupun asing.
Ke depan, proses pergantian Gubernur BI definitif akan menjadi salah satu isu ekonomi-politik paling disorot di Tanah Air. Pasar kini menanti kepastian mengenai siapa yang akan mengisi kursi Gubernur BI secara permanen, sekaligus arah kebijakan moneter yang akan dijalankan pada masa transisi ini. Sampai kepastian itu didapat, para pelaku pasar diperkirakan akan tetap bersikap hati-hati (wait and see) dalam mengambil posisi di pasar rupiah maupun saham.
