Selasa, 03 Nov 2026 AgamaNasionalPolitikDaerahEkonomi
Breaking
Beranda › Hiburan
Hiburan

Dampak Ekonomi Konser Ye di Jakarta Tembus Rp450 Miliar, Ini Tantangan Berikutnya

✍️ Sri Wahyuni 🕒 27 Oct 2026 👁️ 5x dibaca
Kanye West alias Ye menghadirkan pertunjukan visual megah dalam konser perdananya di Indonesia yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (24/10/2026).
Kanye West alias Ye menghadirkan pertunjukan visual megah dalam konser perdananya di Indonesia yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (24/10/2026). Foto: Dok. Raw Vision Collective

Nusantrika.id - Konser Ye Live in Jakarta yang berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Sabtu (24/10/2026) malam WIB, menjadi salah satu peristiwa hiburan dengan dampak ekonomi besar bagi Jakarta. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut konser tunggal Kanye West tersebut menghasilkan dampak ekonomi sekitar Rp450 miliar, termasuk Rp328 miliar dari penjualan tiket.

Jika digabungkan dengan Jakarta Running Festival yang disebut menyumbang Rp175 miliar, perputaran ekonomi selama akhir pekan itu diperkirakan mencapai Rp625 miliar. Nilai tersebut melampaui angka Rp400 miliar yang sebelumnya ramai diperbincangkan.

Besarnya angka itu memunculkan pertanyaan yang lebih penting daripada sekadar keberhasilan mendatangkan artis internasional: bagaimana Jakarta dapat mengubah momentum tersebut menjadi strategi ekonomi kreatif dan pariwisata yang berkelanjutan?

Dampak ekonomi konser Ye dan peluang Jakarta

Skala penyelenggaraan Ye Live in Jakarta terlihat dari jumlah pengunjung yang mencapai sekitar 60 ribu orang. Dari jumlah tersebut, sekitar 30 ribu disebut merupakan wisatawan asing.

Pramono membandingkan dampak ekonomi konser Ye dengan konser The Weeknd dan Pestapora 2026 yang, menurut keterangannya, menghasilkan hampir Rp250 miliar selama dua hari. Dengan demikian, dampak ekonomi konser Ye disebut mendekati dua kali lipat angka tersebut.

Mengutip Fortune Indonesia, aktivitas wisatawan mancanegara sebelum dan setelah konser turut mendorong perputaran uang di Jakarta. Hal ini menunjukkan bahwa manfaat ekonomi sebuah acara musik tidak hanya berasal dari penjualan tiket, tetapi juga dari pengeluaran pengunjung selama berada di kota penyelenggara.

Meski demikian, angka dampak ekonomi perlu dibaca secara cermat. Penjualan tiket sebesar Rp328 miliar merupakan bagian dari nilai yang dilaporkan, tetapi tidak seluruh pendapatannya otomatis menjadi pemasukan bagi pelaku usaha di Jakarta. Sebagian dana dapat mengalir kepada artis, promotor, pemegang hak, dan rantai produksi internasional.

Karena itu, belanja pengunjung untuk hotel, transportasi, restoran, pusat perbelanjaan, dan usaha kecil perlu diperhitungkan secara terpisah untuk memahami seberapa besar manfaat yang benar-benar dinikmati perekonomian lokal.

Selisih sekitar Rp122 miliar antara total dampak ekonomi konser yang dilaporkan dan nilai penjualan tiket dapat menjadi salah satu petunjuk mengenai aktivitas ekonomi di luar transaksi tiket. Namun, angka tersebut belum dapat langsung dianggap sebagai nilai bersih yang tinggal di Jakarta tanpa penjelasan mengenai metode perhitungannya.

Konser musik dapat menggerakkan sektor penginapan

Hubungan antara acara musik dan aktivitas ekonomi lokal juga menjadi perhatian dalam penelitian akademik. Chang dan Chen, dalam penelitian yang diterbitkan di jurnal Current Issues in Tourism pada 2026 oleh Taylor & Francis, menganalisis data panel hotel internasional di Taiwan selama periode 2020–2023.

Penelitian tersebut menemukan hubungan positif antara konser musik dan pendapatan hotel serta permintaan penginapan. Sebaliknya, kegiatan film dan televisi dalam studi itu menunjukkan dampak yang relatif kecil terhadap sektor tersebut.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa jenis acara budaya dapat menghasilkan pengaruh ekonomi yang berbeda. Konser musik berpotensi mendorong kebutuhan akomodasi, terutama ketika menarik penonton dari luar kota atau luar negeri.

Namun, para peneliti juga menekankan bahwa dampak jangka panjang masih membutuhkan kajian lebih lanjut. Peningkatan permintaan hotel selama penyelenggaraan konser belum dengan sendirinya membuktikan bahwa sebuah kota telah membangun daya saing pariwisata yang berkelanjutan.

Bagi Jakarta, tantangannya adalah mengubah lonjakan kunjungan sementara menjadi alasan bagi wisatawan untuk kembali, memperpanjang masa tinggal, dan mengenal lebih banyak destinasi maupun produk kreatif lokal.

Jakarta bersaing dengan kota-kota lain di Asia Tenggara

Jakarta tidak bergerak sendirian dalam memperebutkan penyelenggaraan konser internasional. Negara dan kota lain di Asia Tenggara juga berupaya menjadikan industri hiburan langsung sebagai penggerak pariwisata dan pembentuk citra di mata dunia.

Ken dan rekan-rekannya, dalam penelitian yang diterbitkan di Progress in Political Economy pada 2024, membahas persaingan di kawasan yang antara lain dipicu oleh kesepakatan eksklusivitas konser Taylor Swift di Singapura. Fenomena tersebut menggambarkan bagaimana negara dapat bersaing menarik acara besar untuk mendukung investasi dan memperkuat citra nasional.

Meski berpotensi menghasilkan pendapatan, strategi semacam itu juga menimbulkan pertanyaan mengenai biaya penyelenggaraan, penggunaan sumber daya, serta dampak lingkungan yang belum tentu tercermin dalam angka ekonomi utama.

Persaingan di industri hiburan kawasan juga terlihat dari pertumbuhan penyelenggaraan acara di Malaysia. Menurut data Dentsu yang dikutip LBB pada 2026, Malaysia mencatat 450 konser pada 2025, meningkat dari 104 konser pada 2022.

Sementara itu, Asia News Network melaporkan bahwa Rain Rave Water Music Festival menarik sekitar 415 ribu pengunjung dengan estimasi pendapatan RM392,33 juta. Laporan yang sama juga menyebut proyeksi pertumbuhan pasar hiburan langsung kawasan dari 4,38 miliar dolar AS pada 2024 menjadi 7,51 miliar dolar AS pada 2033.

Angka-angka tersebut menunjukkan besarnya peluang pasar hiburan di Asia Tenggara. Bagi Jakarta, peluang itu sekaligus menjadi tantangan untuk terus meningkatkan kualitas penyelenggaraan dan membangun ekosistem yang dapat mendukung acara berskala internasional.

Keberhasilan mendatangkan Ye merupakan momentum penting, tetapi tidak menjamin bahwa konser besar berikutnya akan otomatis memilih Jakarta. Daya saing harus dibangun melalui konsistensi, kualitas layanan, dan kepastian penyelenggaraan.

Going global bukan sekadar mendatangkan artis dunia

Istilah going global perlu dipahami lebih luas daripada kemampuan mendatangkan musisi internasional. Dalam konsep soft power yang dikembangkan Joseph Nye, daya tarik suatu negara berkaitan dengan kemampuannya membuat budaya, nilai, dan gagasannya menarik bagi masyarakat di luar batas negara.

Dari sudut pandang tersebut, konser Ye di Jakarta terutama menunjukkan arus masuk budaya global. Jakarta menjadi tuan rumah bagi pertunjukan artis internasional, sementara manfaat langsungnya antara lain berupa aktivitas ekonomi, kunjungan wisatawan, dan eksposur kota.

Pencapaian yang lebih jauh terjadi ketika industri kreatif lokal ikut memperoleh kesempatan berkembang. Musisi Indonesia, kru produksi, perancang panggung, pekerja teknis, promotor, dan merek lokal perlu memiliki peluang untuk terlibat dalam rantai produksi internasional.

Dengan begitu, konser besar tidak hanya menjadi tontonan sesaat, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran, peningkatan kapasitas, dan pembukaan akses menuju pasar global.

Spektakel internasional semestinya menjadi tangga bagi pertumbuhan ekosistem kreatif Jakarta, bukan tujuan akhir dari strategi tersebut.

Reputasi penyelenggaraan menjadi modal penting

Ada modal yang dapat dimanfaatkan Jakarta, yakni pengalaman menyelenggarakan pertunjukan internasional sebelumnya.

CEO Raw Vision Collective Mika Ananda, sebagaimana dikutip Medcom, menyebut rekam jejak konser internasional di Jakarta turut mengubah pembicaraan dengan tim Ye. Diskusi yang semula berkutat pada kemungkinan penyelenggaraan akhirnya bergerak menuju keputusan untuk melaksanakannya.

Hal ini menunjukkan bahwa reputasi sebuah kota dibentuk melalui akumulasi pengalaman. Penyelenggaraan yang berjalan baik dapat meningkatkan kepercayaan promotor dan artis terhadap kesiapan kota tersebut. Sebaliknya, masalah serius dalam pelaksanaan berpotensi mengurangi kepercayaan untuk acara berikutnya.

Karena itu, kualitas layanan menjadi salah satu faktor yang perlu dijaga. Analisis Angelia dan Widagdyo (2024) yang dimuat dalam jurnal Destinesia mengutip penelitian mengenai Soundrenaline 2014 yang menemukan bahwa kualitas suara menjadi faktor paling menentukan kepuasan penonton.

Temuan tersebut mengingatkan bahwa keberhasilan konser tidak cukup diukur dari jumlah pengunjung atau nilai transaksi. Pengalaman penonton, kualitas teknis, keamanan, akses menuju lokasi, dan kelancaran pelayanan turut menentukan reputasi penyelenggara.

Memperbesar dampak ekonomi melalui strategi terpadu

Agar konser menghasilkan manfaat yang lebih luas, pemerintah dan penyelenggara perlu mengoordinasikan berbagai sektor pendukung. Sebuah ulasan industri di Nomad Lawyer menekankan pentingnya koordinasi urusan imigrasi, kapasitas hotel, dan transportasi untuk memperbesar efek pengganda ekonomi dari acara besar.

Kota yang mampu menghubungkan berbagai layanan tersebut berpeluang membuat pengunjung tinggal lebih lama dan membelanjakan uang di lebih banyak sektor. Sebaliknya, jika konser diperlakukan sebagai acara satu malam tanpa perencanaan lintas sektor, dampaknya bisa berhenti pada keramaian sesaat dan persoalan lalu lintas.

Penyelenggaraan Ye Live in Jakarta yang berdekatan dengan Jakarta Running Festival memberikan contoh awal bagaimana dua acara berbeda dapat menarik pengunjung dalam satu periode. Pramono menyebut kombinasi kegiatan tersebut ikut mendorong aktivitas ekonomi selama akhir pekan.

Strategi berikutnya dapat dilakukan dengan menghubungkan acara internasional dengan pertunjukan musisi lokal, promosi kuliner, produk usaha mikro dan kecil, serta paket wisata sebelum dan sesudah acara. Dengan cara itu, pengunjung tidak hanya datang untuk menonton, tetapi juga berkesempatan mengenal lebih jauh Jakarta.

Pemerintah daerah pun perlu menyusun indikator yang lebih terukur, seperti lama tinggal wisatawan, tingkat hunian hotel, belanja di usaha lokal, keterlibatan pekerja kreatif Indonesia, dan dampak lingkungan. Data tersebut dapat membantu membedakan perputaran ekonomi bruto dari manfaat bersih yang diterima masyarakat.

Konser Ye dan Jakarta Running Festival menunjukkan bahwa Jakarta memiliki peluang untuk menjadi tujuan acara berskala internasional. Namun, keberlanjutan peluang itu bergantung pada kemampuan mengubah momentum menjadi kebijakan dan ekosistem yang konsisten.

Target akhirnya bukan hanya menghadirkan lebih banyak pertunjukan besar, melainkan memastikan bahwa setiap acara memperkuat industri kreatif lokal, memperluas manfaat bagi pelaku usaha, dan membuat pengunjung memiliki alasan untuk kembali ke Jakarta.

SW
Sri WahyuniEditor
💬

Diskusi

Bagikan pendapat Anda
0 komentar

Lengkapi data kamu

Sekali isi untuk bisa berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

News Update