Boeing Perbarui Sistem 737 MAX, Sensor Bermasalah Bisa Terdeteksi Otomatis
Nusantrika.id - Boeing menyiapkan pembaruan sistem avionik pada keluarga pesawat 737 MAX melalui teknologi enhanced angle-of-attack (eAOA). Teknologi ini dirancang untuk mendeteksi kegagalan sensor sudut serang pesawat (angle of attack/AOA), mencegah data keliru memengaruhi sistem penerbangan lain, serta membantu pilot mengenali gangguan dengan lebih cepat.
Sistem eAOA akan pertama kali diterapkan pada Boeing 737-10, varian terbesar dalam keluarga 737 MAX. Boeing berencana menjadikannya perlengkapan standar pada seluruh pesawat 737 MAX baru yang keluar dari lini produksi. Perusahaan juga akan menyediakan paket retrofit untuk memasang pembaruan tersebut pada pesawat yang sudah beroperasi.
Pengembangan ini menjadi bagian dari upaya Boeing memperkuat keselamatan penerbangan setelah dua kecelakaan fatal yang melibatkan Boeing 737 MAX 8, yakni Lion Air JT610 pada 2018 dan Ethiopian Airlines ET302 pada 2019. Dalam kedua kecelakaan tersebut, kegagalan salah satu sensor AOA menyebabkan sistem pesawat menerima data yang tidak akurat.
Deputy Chief Pilot Boeing 737, Capt. Bill Quashnock, mengatakan sistem baru tersebut akan menyederhanakan prosedur yang harus dilakukan pilot ketika terjadi masalah pada sensor AOA.
"Saat ini, jika pilot mengalami masalah dengan sistem angle-of-attack, mereka harus menjalankan daftar pemeriksaan yang panjang. Kami menyederhanakan hal tersebut secara signifikan. Ini akan jauh lebih mudah bagi pilot," kata Quashnock, dikutip KompasTekno dari situs resmi Boeing.
Sistem eAOA dilengkapi lima monitor pemantau
Sensor AOA merupakan komponen penting dalam sistem penerbangan Boeing 737. Pesawat ini memiliki dua sensor berbentuk bilah atau vane di sisi kiri dan kanan hidung pesawat. Sensor tersebut mengukur sudut pesawat terhadap aliran udara, kemudian mengirimkan datanya ke sistem avionik.
Data AOA yang tidak akurat dapat memengaruhi informasi yang ditampilkan kepada pilot maupun sistem lain, termasuk kontrol penerbangan.
"Jika ada masalah pada vane tersebut, hal itu dapat menyebabkan data kecepatan dan ketinggian yang salah ditampilkan kepada pilot, serta diteruskan ke sistem lain seperti kontrol penerbangan yang menggunakan data tersebut," kata Avionics Engineering Manager Boeing, Nate Bement.
Untuk mengurangi risiko tersebut, Boeing membentuk tim yang terdiri dari ahli avionik, kontrol penerbangan, operasi awak, ilmu penerbangan, dan pilot uji. Tim ini merancang ulang sistem pemantauan agar dapat mengenali indikasi kegagalan sensor berdasarkan karakteristik penerbangan.
Technical Fellow sekaligus ahli avionik Boeing, Jonathan Morrow, mengatakan tim pengembang mempertimbangkan berbagai kemungkinan sebelum menentukan rancangan sistem baru.
"Semua opsi ada di atas meja," kata Morrow.
Menurut Morrow, tim tersebut bekerja sekitar empat jam setiap hari selama enam bulan untuk mengembangkan eAOA. Salah satu perubahan utama ialah penambahan lima sistem pemantauan atau monitor pada sistem data udara pesawat.
Monitor tersebut memeriksa apakah sensor memberikan respons sesuai dengan kondisi penerbangan. Saat pesawat lepas landas dan hidungnya mulai terangkat, misalnya, sensor AOA semestinya menunjukkan nilai sudut serang yang tinggi.
Setelah pesawat mencapai kecepatan yang cukup, sensor diharapkan kembali menunjukkan nilai mendekati nol seiring perubahan aliran udara yang memengaruhi posisi vane.
Sistem ini juga dirancang mengenali karakteristik gangguan akibat benturan benda, seperti burung. Benturan dapat membuat sensor menunjukkan nilai sangat tinggi sekaligus menyebabkan hilangnya arus listrik untuk sistem anti-es.
Jika respons sensor tidak sesuai dengan karakteristik yang diharapkan, perangkat lunak akan menandai datanya sebagai bermasalah. Data yang dinilai tidak valid kemudian tidak diteruskan ke sistem pesawat lainnya. Dalam kondisi tertentu, sistem dapat menggunakan nilai bawaan agar data AOA yang keliru tidak memengaruhi perhitungan penerbangan berikutnya.
Peringatan AOA FAIL ditampilkan di kokpit
Selain meningkatkan kemampuan deteksi, Boeing memperbarui cara sistem menyampaikan informasi gangguan kepada pilot. eAOA akan menampilkan peringatan "AOA FAIL" pada primary flight display di kokpit.
Peringatan itu juga menunjukkan sensor di sisi kiri atau kanan yang mengalami masalah. Dengan demikian, pilot dapat lebih cepat mengetahui sumber gangguan tanpa harus menjalankan rangkaian pemeriksaan panjang untuk menentukan sensor yang bermasalah.
Boeing menyatakan kejelasan informasi menjadi salah satu sasaran utama pengembangan eAOA. Kegagalan sensor tidak hanya berpotensi memengaruhi kontrol penerbangan, tetapi juga dapat memunculkan berbagai indikasi yang membingungkan awak kokpit.
"Sensor bisa mengalami kegagalan, tetapi yang dapat kami lakukan adalah membatasi dampak kegagalan tersebut dan mencoba membuat semuanya sejelas dan setidak ambigu mungkin bagi pilot," ujar Morrow.
Kecelakaan Lion Air dan Ethiopian Airlines menjadi pelajaran
Pengembangan sistem AOA berkaitan erat dengan rangkaian peristiwa dalam dua kecelakaan fatal Boeing 737 MAX 8.
Pada 29 Oktober 2018, Lion Air JT610 jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat, setelah lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Pangkal Pinang. Seluruh 189 orang di dalam pesawat meninggal dunia.
Dalam kecelakaan tersebut, sensor AOA sebelah kiri memberikan data yang keliru. Informasi itu membuat sistem Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS) menerima masukan yang tidak akurat mengenai sudut serang pesawat. MCAS kemudian berulang kali memerintahkan hidung pesawat mengarah ke bawah melalui horizontal stabilizer.
Kecelakaan fatal berikutnya terjadi pada penerbangan Ethiopian Airlines ET302 pada Maret 2019 dan menewaskan 157 orang.
Dua kecelakaan tersebut menyebabkan armada Boeing 737 MAX dilarang terbang di berbagai negara selama hampir dua tahun. Pesawat kembali diizinkan beroperasi setelah Boeing menerapkan sejumlah perubahan perangkat lunak, prosedur operasional, dan pelatihan pilot.
Boeing menambahkan sakelar untuk mematikan stick shaker
Perubahan lain pada sistem keselamatan 737 MAX ialah penambahan sakelar di kokpit yang memungkinkan pilot mematikan stick shaker. Perangkat ini merupakan sistem peringatan stall atau kehilangan daya angkat yang membuat kemudi pilot bergetar kuat disertai suara peringatan.
Dalam kecelakaan Lion Air JT610 dan Ethiopian Airlines ET302, data AOA yang salah membuat sistem pesawat mendeteksi kondisi seolah-olah mendekati stall. Akibatnya, stick shaker aktif.
Menurut Boeing, regulator penerbangan Kanada menilai suara dan getaran yang berlangsung terus-menerus dapat mengganggu kemampuan pilot untuk mengendalikan pesawat dengan aman.
Dalam proses pengembalian 737 MAX ke layanan komersial pada 2020, regulator Kanada mensyaratkan penambahan sakelar untuk menonaktifkan stick shaker jika perangkat tersebut memberikan peringatan yang tidak semestinya atau nuisance alert.
Sakelar ini menjadi kendali manual bagi awak pesawat apabila gangguan tidak tertangani oleh sistem pemantauan otomatis.
"Jika ada sesuatu yang berhasil melewati sistem monitor baru, mereka dapat menggunakan sakelar tersebut untuk setidaknya mematikan stick shaker yang terus-menerus sehingga bisa lebih mudah menjalankan checklist dan menentukan kondisi pesawat," kata Bement.
Boeing menguji sistem melalui simulasi dan rekaman penerbangan
Sebelum diterapkan, Boeing menyatakan eAOA telah menjalani pengujian laboratorium, analisis, dan peer review. Pilot uji juga menghabiskan waktu berbulan-bulan di simulator untuk mengevaluasi kinerja sistem.
Tim Flight Test kemudian menguji sistem dalam berbagai kondisi penerbangan, termasuk dengan sengaja menyimulasikan kegagalan sensor ketika pesawat berada di udara.
"Setiap kali kami memasukkan kegagalan, kami melihat monitor dapat menangkapnya dan memberikan indikasi yang benar," kata Quashnock.
Boeing juga menganalisis beberapa juta rekaman penerbangan Boeing 737 NG dan 737 MAX untuk mengidentifikasi kasus kegagalan sensor AOA yang pernah tercatat. Kasus-kasus tersebut kemudian dianalisis kembali menggunakan kemampuan sistem eAOA baru.
"Kami dapat mengatakan dengan yakin bahwa setiap kejadian tersebut akan terdeteksi oleh salah satu monitor baru ini," ujar Morrow.
Klaim tersebut didasarkan pada hasil pengujian dan analisis internal Boeing.
Boeing 737-10 memperoleh sertifikasi FAA
Boeing merencanakan penerapan awal eAOA pada 737-10 atau 737 MAX 10, varian terbesar dalam keluarga 737 MAX. Pesawat tersebut disebut telah memperoleh sertifikasi dari Federal Aviation Administration (FAA), regulator penerbangan Amerika Serikat.
Pejabat FAA menandatangani dokumen sertifikasi resmi 737-10, yakni Amended Type Certificate dan Production Certificate 700. Dokumen tersebut diserahkan Menteri Transportasi AS Sean Duffy kepada Boeing dalam seremoni di Everett, Washington, Selasa (20/10/2026).
"Setelah melalui tinjauan keselamatan yang ekstensif, termasuk ribuan jam penerbangan uji, tim FAA siap menyetujui pesawat penting ini untuk dijual," kata Duffy.
Dengan sertifikasi tersebut, Boeing dapat melanjutkan persiapan pengiriman 737-10 kepada pelanggan. Perusahaan menjadwalkan pengiriman perdana pesawat ini mulai 2027.
Setelah itu, Boeing berencana menjadikan eAOA sebagai perlengkapan standar pada seluruh varian 737 MAX baru. Perusahaan juga akan menawarkan paket retrofit bagi operator yang ingin memasang sistem tersebut pada pesawat yang sudah beroperasi.
