Ekspor Chip Dunia Tembus US$1,27 Triliun, Indonesia Masih Peringkat ke-25
Nusantrika.id - Asia semakin mengukuhkan posisinya sebagai pusat perdagangan semikonduktor dunia. Sepanjang 2025, kawasan ini menyumbang 91,3% dari total ekspor chip global yang mencapai US$1,27 triliun atau sekitar Rp22.860 triliun.
Hong Kong, Taiwan, dan China menjadi tiga eksportir terbesar dengan nilai pengiriman gabungan lebih dari US$670 miliar atau sekitar Rp12.060 triliun. Ketiganya menguasai lebih dari separuh perdagangan chip dunia.
Dominasi negara-negara Asia juga terlihat dari masuknya Singapura dan Malaysia dalam enam besar eksportir global. Singapura berada di peringkat kelima dengan nilai ekspor US$135,4 miliar atau sekitar Rp2.437,2 triliun, sedangkan Malaysia menempati posisi keenam.
Pemeringkatan tersebut mengacu pada data perdagangan sirkuit terpadu atau integrated circuit (IC) dengan kode HS 8542. Kategori ini meliputi berbagai komponen semikonduktor, seperti prosesor, pengendali (controller), memori, penguat sinyal (amplifier), dan jenis sirkuit terpadu lainnya.
Dengan cakupan tersebut, data ekspor tidak hanya menggambarkan perdagangan chip untuk kebutuhan kecerdasan buatan (AI), tetapi juga berbagai komponen yang digunakan dalam perangkat elektronik.
Secara global, nilai ekspor chip pada 2025 meningkat 20,9% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar US$1,05 triliun atau sekitar Rp18.900 triliun. Kontribusinya terhadap total ekspor barang dunia juga naik menjadi sekitar 5%, dari 4,5% pada 2024.
Asia Menyumbang 91,3% Ekspor Chip Global
Nilai ekspor chip kawasan Asia mencapai US$1,16 triliun atau sekitar Rp20.880 triliun sepanjang 2025. Angka tersebut setara dengan 91,3% dari keseluruhan perdagangan chip dunia.
Sebagai perbandingan, Amerika Utara hanya menyumbang 4,4%, sedangkan Eropa sebesar 4,2%. Konsentrasi perdagangan juga terlihat pada 15 eksportir terbesar yang secara kolektif menguasai 98,1% ekspor chip global.
Data yang dihimpun World’s Top Exports tersebut menunjukkan besarnya peran Asia dalam rantai pasok semikonduktor internasional. Peran itu tidak hanya berasal dari kegiatan manufaktur, tetapi juga perdagangan, distribusi, dan pengiriman ulang komponen ke berbagai negara.
Hong Kong Memimpin Berkat Peran sebagai Pusat Re-Ekspor
Hong Kong menempati peringkat pertama dengan pangsa 20,7% dari total ekspor chip dunia. Nilai pengirimannya tumbuh 19,4% dibandingkan 2024.
Namun, posisi tersebut tidak semata-mata ditopang oleh produksi chip domestik. Hong Kong juga berperan sebagai pusat perdagangan dan re-ekspor semikonduktor yang diproduksi di negara lain.
Sekitar 40% chip yang ditangani Hong Kong berasal dari China. Taiwan menyumbang sekitar seperlima pasokan, disusul Singapura dan Korea Selatan.
Dukungan status pelabuhan bebas tanpa tarif impor serta jaringan kargo udara yang kuat turut memperkuat posisi Hong Kong sebagai pusat distribusi semikonduktor internasional.
Aktivitas tersebut terlihat dari perdagangan pada Januari hingga Mei 2026. Dalam periode itu, Hong Kong tercatat melakukan pengiriman ulang chip senilai US$124 miliar atau sekitar Rp2.232 triliun ke China daratan.
Sementara itu, Taiwan yang berada di posisi kedua juga mencatat peningkatan ekspor. Data Kementerian Keuangan Taiwan menunjukkan nilai ekspor sirkuit terpadu negara tersebut bertambah US$44,8 miliar atau sekitar Rp806,4 triliun sepanjang 2025. Pertumbuhan ini mencapai 27,2% dibandingkan tahun sebelumnya.
Korea Selatan, yang menempati peringkat keempat, turut mencatat kinerja positif. Kementerian Perdagangan, Industri, dan Sumber Daya Korea melaporkan ekspor semikonduktor meningkat 22,1% pada 2025 dan mencapai rekor tertinggi.
Singapura dan Malaysia Perkuat Posisi Asia Tenggara
Singapura menjadi eksportir chip terbesar di Asia Tenggara sekaligus menempati peringkat kelima dunia. Nilai ekspornya mencapai US$135,4 miliar atau sekitar Rp2.437,2 triliun pada 2025, meningkat 13,6% dibandingkan tahun sebelumnya.
Badan Pembangunan Ekonomi Singapura menyebut sekitar satu dari setiap sepuluh chip di dunia berasal dari negara tersebut. Singapura juga memproduksi sekitar seperlima peralatan semikonduktor global.
Industri semikonduktor menjadi salah satu sektor penting bagi perekonomian negara kota itu. Kontribusinya mencapai hampir 6% terhadap produk domestik bruto (PDB) dan menyerap lebih dari 35.000 tenaga kerja.
Salah satu perusahaan yang memperkuat posisi Singapura dalam rantai pasok global adalah Micron. Sebanyak 98% chip memori penyimpanan jenis NAND flash buatan perusahaan tersebut diproduksi di Singapura.
Malaysia berada tepat di bawah Singapura dengan nilai ekspor sekitar US$102,2 miliar atau sekitar Rp1.839,6 triliun. Selisih nilai pengiriman kedua negara mencapai sekitar US$33,2 miliar atau Rp597,6 triliun.
Meski berada di peringkat keenam, Malaysia mencatat pertumbuhan ekspor lebih tinggi. Nilainya meningkat 33,1% dibandingkan 2024, menjadi pertumbuhan terbesar di antara enam eksportir teratas.
Lembaga Pengembangan Investasi Malaysia mencatat negara tersebut menyumbang sekitar 13% terhadap volume global kegiatan perakitan, pengujian, dan pengemasan chip.
Kinerja ekspor Malaysia juga menunjukkan penguatan pada 2026. Kementerian Investasi, Perdagangan, dan Industri Malaysia melaporkan ekspor semikonduktor selama Januari hingga April 2026 meningkat sekitar 50% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Indonesia Masih Berada di Peringkat ke-25
Di tengah kuatnya dominasi Asia dalam perdagangan semikonduktor, kontribusi Indonesia masih relatif kecil dibandingkan sejumlah negara tetangga.
Indonesia menempati peringkat ke-25 dalam daftar 100 eksportir chip dunia pada 2025. Nilai ekspornya tercatat sebesar US$766,97 juta atau sekitar Rp13,8 triliun, tumbuh 8,9% dibandingkan 2024.
Meski mengalami peningkatan, nilai ekspor tersebut masih belum mencapai 1% dari total ekspor chip Malaysia.
Kesenjangan juga terlihat jika dibandingkan dengan Thailand yang berada di peringkat ke-12. Negara tersebut mencatat ekspor chip senilai US$11,1 miliar atau sekitar Rp199,8 triliun, setara sekitar 14,5 kali nilai ekspor Indonesia.
Dengan nilai ekspor sekitar 7% dari capaian Thailand, Indonesia masih menghadapi kesenjangan dalam perdagangan semikonduktor regional. Posisi tersebut memperlihatkan besarnya jarak yang perlu dikejar untuk meningkatkan peran Indonesia dalam rantai pasok chip global.
