Huawei vs Nvidia: Dana Jumbo dan Banyak Chip Belum Cukup Tutup Kesenjangan Teknologi AI
Nusantrika.id - China belum mampu menyamai Nvidia dalam memproduksi chip kecerdasan buatan (AI) tercanggih, meski punya insinyur andal, basis manufaktur besar, dan dukungan dana pemerintah. Tiga hambatan utamanya adalah akses terbatas ke mesin pembuat chip generasi terbaru, pasokan memori berkecepatan tinggi yang belum memadai, dan ekosistem perangkat lunak yang masih tertinggal.
Pendiri Huawei, Ren Zhengfei, mengakui jarak itu pada Juni 2025.
“Chip tunggal kami masih tertinggal satu generasi dari Amerika Serikat,” kata Ren.
Kesenjangan Model AI dan Daya Komputasi
Data Epoch AI menunjukkan semua model AI terdepan sejak 2023 lahir di Amerika Serikat (AS). Model asal China rata-rata terlambat tujuh bulan, dengan rentang empat hingga 14 bulan.
Dari sisi komputasi, per Mei 2025 AS menguasai sekitar 75 persen kapasitas klaster GPU (graphics processing unit) dunia, sedangkan China sekitar 15 persen. Klaster GPU adalah gabungan ribuan chip yang terhubung di pusat data untuk melatih model AI. Colossus milik xAI di Memphis menjadi contohnya: dibangun dalam 122 hari dengan 100.000 GPU Nvidia, lalu diperbesar menjadi 200.000 GPU sejak akhir 2024.
Ketergantungan pada Nvidia juga terlihat di China. Laporan teknis DeepSeek menyebut DeepSeek-V3 dilatih dengan chip Nvidia H800, yang dirancang untuk memenuhi ketentuan pasar China, selama total 2,788 juta jam GPU. Atas dorongan regulator, DeepSeek mencoba melatih model R2 dengan chip Huawei Ascend, tetapi terkendala masalah teknis meski teknisi Huawei sudah dikirim ke kantornya. Perusahaan itu akhirnya kembali ke Nvidia untuk pelatihan, sedangkan Ascend dipakai menjalankan model yang sudah jadi.
Pelaku industri menilai chip China masih kalah dalam kestabilan, konektivitas, dan kualitas perangkat lunak. Nilai impor chip China sepanjang Januari-November 2024 mencapai 349 miliar dollar AS (sekitar Rp 6.282 triliun), naik 10,5 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya.
Hambatan Pertama: Mesin Litografi EUV
China cukup maju di chip mature node, yang dipakai pada mobil, peralatan rumah tangga, dan perangkat industri. Pangsanya naik dari 19 persen pada 2015 menjadi 33 persen pada 2023, sebab proses ini tidak memerlukan litografi secanggih chip AI kelas atas. Untuk semikonduktor mutakhir, China diperkirakan tertinggal minimal dua tahun. Pada 2023, produsen peralatan domestik baru memenuhi 9,6 persen kebutuhan mesin untuk proses 20-14 nanometer.
Program Made in China 2025 menargetkan separuh kebutuhan peralatan chip dipenuhi produsen lokal pada 2020, tetapi realisasinya baru sekitar 16 persen pada kuartal III-2024. Big Fund III, dana semikonduktor nasional tahap ketiga yang dibentuk Mei 2024 dengan modal 344 miliar yuan (sekitar Rp 860 triliun), belum otomatis menyelesaikan masalah teknologi dan akses peralatan.
Kendala terbesarnya adalah mesin extreme ultraviolet (EUV), alat untuk mencetak pola sirkuit sangat kecil pada wafer silikon. Mesin ini hanya dibuat ASML dari Belanda, dan penjualannya ke China dilarang karena tekanan AS. Akibatnya, SMIC, produsen chip terbesar China, memaksimalkan mesin deep ultraviolet (DUV) dengan teknik multi-patterning, yakni mencetak pola berulang pada lapisan yang sama agar sirkuit lebih rapat.
Hasilnya terlihat pada 29 Agustus 2023, saat Huawei tiba-tiba meluncurkan Mate 60 Pro bertepatan dengan kunjungan Menteri Perdagangan AS Gina Raimondo ke China. Firma TechInsights yang membongkar ponsel itu menemukan prosesor Kirin 7 nanometer buatan SMIC.
“Temuan chip Kirin yang memakai proses 7 nanometer SMIC menunjukkan kemajuan industri semikonduktor China tanpa alat litografi EUV,” kata Wakil Ketua TechInsights Dan Hutcheson.
- Wisata Gratis Sabtu 17 Oktober 2026: Museum Nasional hingga Borobudur dan Prambanan, Cek Ketentuannya
- Berita Pilihan Sabtu: Pengasuhan Digital, Museum Keris Dibuka Lagi, Roadster Terbaru Tesla, hingga Kabar Duka Yadi Timo
- Dana Desa Turun Rp85 Miliar dan Gaji PPPK Rp280 Miliar, Ruang Fiskal Trenggalek 2027 Kian Sempit
Meski begitu, menurut Epoch AI, jumlah transistor pada chip terbaik SMIC hanya sekitar separuh chip kelas atas TSMC dari Taiwan, dengan waktu produksi sekitar dua kali lebih lama. Hasil produksi pun terbatas dan efisiensi manufaktur turun. Huawei sendiri kehilangan akses langsung ke TSMC setelah aturan ekspor AS diperketat pada 2020. Lewat perantara, ia sempat memperoleh sekitar tiga juta keping chip AI buatan TSMC pada 2024, lalu makin bergantung pada SMIC, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Tom’s Hardware.
Hambatan Kedua: Pasokan Memori Berkecepatan Tinggi
Sistem AI memerlukan memori cepat untuk memasok data ke chip, terutama saat beban komputasi besar. Akses China ke memori khusus AI menyempit setelah AS memberlakukan pembatasan ekspor pada 2 Desember 2024.
Sebelum aturan itu berlaku, Huawei dilaporkan telah menimbun jutaan keping memori, terutama dari Samsung. Produsen lokal ChangXin Memory Technologies (CXMT) diperkirakan baru sanggup memenuhi kebutuhan beberapa ratus ribu chip AI Huawei, jauh dari yang diperlukan. Huawei lalu mengembangkan memori sendiri dan pada Maret 2026 memperkenalkan Ascend 950PR. Huawei mengklaim performanya sekitar 2,8 kali Nvidia H20, padahal H20 adalah chip berspesifikasi lebih rendah untuk pasar China, bukan produk andalan Nvidia.
Untuk menutup selisih performa per chip, Huawei menggabungkan banyak chip dalam satu sistem. Ren Zhengfei menyebut pendekatan ini sebagai cara meningkatkan kemampuan komputasi.
“Dengan metode seperti penumpukan dan klaster, hasil komputasinya setara dengan level paling maju,” kata Ren.
Contohnya CloudMatrix 384, server Huawei berisi 384 chip. SemiAnalysis memperkirakan kemampuannya hampir dua kali lipat sistem andalan Nvidia, tetapi konsumsi listriknya hampir empat kali lebih besar. Epoch AI memperkirakan performa tiap chip Huawei masih tertinggal tiga hingga empat tahun dari Nvidia hingga 2030, sehingga strategi penumpukan chip belum menutup kesenjangan di tingkat komponen.
Hambatan Ketiga: Dominasi CUDA
Keunggulan Nvidia juga bertumpu pada ekosistem perangkat lunak. CUDA, platform komputasi yang diperkenalkan sejak 2006, digunakan lebih dari 7,5 juta pengembang menurut Nvidia dan menjadi bagian penting pengembangan aplikasi AI di banyak industri.
Karena program sudah dibangun di atas CUDA, beralih ke chip Huawei berarti menyesuaikan atau menulis ulang kode agar cocok dengan perangkat keras dan lunak berbeda. Pengembang harus menyiapkan waktu, biaya, dan tenaga tambahan, sehingga keunggulan ini sulit ditiru dalam waktu singkat.
Kebijakan Dua Negara dan Bangkitnya Produsen Lokal
Pembatasan ekspor AS menutup akses China ke teknologi Nvidia sekaligus mempersempit peluang Nvidia berjualan di sana. Pada Oktober 2025, CEO Nvidia Jensen Huang menyatakan bisnis chip AI perusahaannya di China praktis hilang.
“Kami turun dari pangsa pasar 95 persen menjadi 0 persen,” kata Huang.
Beijing juga dilaporkan memperketat akses ke produk Nvidia. Pada September 2025, regulator internet China meminta ByteDance dan Alibaba menghentikan pengujian dan pembelian salah satu chip Nvidia. Kondisi ini membuka ruang bagi pemain lokal: Cambricon membukukan pendapatan 5,996 miliar yuan (sekitar Rp 15 triliun) pada semester I-2026, naik 108 persen secara tahunan. Berdasarkan peta jalan September 2025, Huawei juga menyiapkan Ascend 960 pada 2027 dan Ascend 970 pada 2028.
